Positioning
(Kottler,1997) adalah tindakan perusahaan untuk merancang produk dan marketing
mix (bauran pemasaran) agar tercipta kesan tertentu yang diingat oleh konsumen.
Bedanya apa dengan “slogan”, “iklan”? Slogan atau Iklan hanyalah pemberitahuan
yang bersifat sesaat tanpa menentukan segmentasi pasar dan membangun ikatan
dengan konsumen, sementara positioning merupakan strategi yang diterapkan dalam
waktu yang cukup lama baik yang berkaitan dengan produk, kompetitor. Dalam
positioning konsumen adalah tujuan, sehingga
seluruh produk diperuntukan sesuai dengan keinginan konsumen sebagai buyers dan users.
Langkah-langkah
dalam positioning menurut Kotler (1997), setidaknya ada tiga langkah dalam
melakukan positioning, yaitu:
1.
Mengenali keunggulan-keunggulan yang
mungkin dapat ditampilkan dalam hubungan dengan pesaing.
2.
Memilih keunggulan-keunggulan yang
paling kuat atau menonjol.
3.
Menyampaikan keunggulan itu secara
efektif kepada target pasar.
Tidak
semua keunggulan merupakan indikator yang bisa ditampilkan ke pasar, tetapi
harus diseleksi. Menurut Kotker, sebuah keunggulan yang patut ditampilkan harus
memenuhi kriteria: Penting, berbeda, superior, dapat dikomunikasikan, pelopor,
harga terjangkau, menguntungkan.
Beberapa kesalahan positioning yang sedapat
mungkin Harus dihindari menurut Kotler, yaitu:
·
Underpositioning,
di mana si konsumen tidak mengenali kekhususan produk atau merek atau atribut
yang dikomunikasikan.
·
Overpositioning,
di mana konsumen mempunyai gambaran yang terlalu sempit mengenai suatu atribut.
·
Confused
positioning, di mana konsumen tidak merasa
pasti dengan citra suatu produk karena terlalu banyak janji yang diberikan atau
positioning yang terlalu sering berubah.
·
Doubtful positioning, konsumen merasa ragu dengan janji produk tersebut, seperti
kemampuan produk, harga dan manfaat.
Melakukan
positioning jasa melalui perubahan structural Produk barang dan jasa mempunyai
perbedaan dalam hal wujud, yaitu berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Apabila dalam produk barang isinya adalah “bahan
baku”, sedangkan dalam produk jasa isinya adalah “proses”. Dua hal ini dapat
memiliki implikasi terhadap strategi pemasaran (segmentasi, targeting, dan positioning)
yang akan diterapkan pada kedua jenis produk ini.
Positioning
memang ditujukan langsung pada konsumen di mana komunikasi berperan besar dalam
menancapkan citra produk kedalam benak konsumen. Namun sebenarnya positioning
tidak hanya sekedar iklan ataupun promosi. Positioning juga dapat dibentuk
melalui penentuan harga, distribusi, dan produk atau proses jasa itu sendiri.
Tingkatan
positioning terhadap suatu perusahaan: Tingkatan industry, Tingkatan
organisasi, Tingkatan sektor produk, Tingkatan produk atau jasa individu.
Karakteristik Proses pada tingkatan organisasi. Proses secara operasional dan
teknis meliputi beberapa konsep:
1.
Setiap proses menyediakan cara untuk
memecah proses-proses tersebut menjadi beberapa langkah yang logis dan
sistematis untuk mempermudah pengendalian dan analisisnya.
2.
Adanya
akomodasi dari berbagai variable proses di mana hasilnya akan berbeda mengingat
dampak dari penilaian, kesempatan, atau pilihan dari sebuah urutan proses.
3.
Setiap
sistem memasukkan konsep penyimpangan atau standar toleransi.
Kompleksitas
dan keanekaragaman
Kompleksitas adalah cara membangun
proses melalui langkah-langkah dan susunan. Jadi, sebuah proses menjadi rumit
bila terdapat banyak susunan dan langkah yang harus diikuti.Keragaman adalah
kebebasan atau kemampuan untuk memilih keanekaragaman melalui langkah-langkah
dan susunan proses. Proses dapat pula menjadi sedikit berbeda jika banyak
penyimpangan atau cara yang berbeda dalam menerapkan proses tersebut. Berbagai
produk jasa dapat menjadi proses yang sangat kompleks dan atau sedikit beragam.
Mengubah proses
Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mengubah proses jasa.
1.
Mengurangi keragaman
Mengarahkan
pada penyeragaman, menggeser strategi positioning yang berorientasi volume pada
skala ekonomis.
2.
Menambah keragaman
Mengarahkan
pada kustomisasi dan fleksibilitas dari jasa yang ditawarkan, dengan lebih
spesifik menargetkan ceruk pasar yang lebih kecil. Cara ini banyak bergantung
pada besarnya kapasitas produksi namun menekankan pada margin laba yang lebih
besar.
3.
Mengurangi kompleksitas
Strategi
yang digunakan lebih pada spesialisasi, di mana setiap langkah yang diterapkan
didapat dari sistem yang ada dan sumber daya yang difokuskan pada penawaran
jasa yang lebih sempit.
4.
Menambah kompleksitas
Strategi
yang digunakan lebih ditujukan untuk menembus pasar dengan menambah jasa atau
layanan atau memperluas jasa yang sudah ada.
Implikasi
dari perubahan sistem jasa
Bila dalam setiap jasa digambarkan
dalam posisi relatifnya berdasarkan analisis structural, maka dapat
diilustrasikan sebagai berikut
Jasa
rumah sakit mempunyai kompleksitas yang tinggi namun tidak terlalu tinggi
keragamannya. Pada jasa rumah sakit sering kali ditemukan struktur rumah sakit
yang memang banyak dan rumit, namun setiap kegiatan medis yang dilakukan tidak
terlalu banyak variasi karena harus sesuai prosedur dan etika kedokteran.
Berbeda dengan jasa diagnostic saja, tidak terlalu tinggi kompleksitasnya dan
tidak terlalu tinggi keragamannya. Hampir sama dengan jasa rumah sakit dalam
hal tingginya keragaman, namun karena hanya melayani dibidang diagnosis, maka
tidak terlalu rumit strukturnya.
Gambar
diatas menggambarkan bagaimana posisi rumah sakit dibenak konsumen khususnya
tentang standar pelayanan yang diberikan. Dalam gambar tersebut tergambar jelas
tentang kompleksitas yang tinggi jasa rumah sakit dan standar pelayanan
diagnosis yang diberikan oleh dokter atau perawat.