Sabtu, 18 Juli 2015

Empat Kesalahan Pengeksekusian Strategi Organisasi; Perspektif Balanced scorecard.



Sebuah dashboard pada cockpit peawat terbang, terdapat berbagai petunjuk dan informasi seperti jumlah ketersediaan bahan bakar, ketinggian, kemiringan, radar cuaca, dan panel lain yang mendukung pesawat  agar pesawat selamat sampai ditujuan.
Demikian pula organisasi, mereka memiliki visi, misi,tujuan utama organisasi, analisis lingkungan internal dan eksternal, pilihan penerapan stertegis dalam mencapai tujuan utama organisasi. Dan keseluruhannya ditampilkan pada dashboard Organisasi, baik dalam bentuk struktur organisasi maupun representasi SDM dari organisasi tersebut.
Dari penelitian Kaplan dan Nortn (1992) menemukan bahwa terjadi gap antara konsep strategis yang dipilih organisasi dan implementasinya. Sehingga, 10 dari organisasi yang diteliti hanya 1 yang berhasil mengimplementasikan perencanaann strategisnya, dan 9 gagal. Eksistensi gap tersebut, digambarkan oleh Kaplan dan Norton sebagai berikut:


Gambar
                                               Empat Hambatan Implementasi Strategi

                                                             [Sumber: Norton dan Kaplan (1992)]

1. Visi dan Strategi tidak dapat dijalankan (not actionable). Permasalahan ini kerapkali dialami organisasi karena belum disepakatinya bahasa baku untuk menjelaskan visi agar strategi dapat difahami dan dilaksanakan. Boleh jadi, hal ini disebabkan karena visi dan strategis merupakan deretan mimpiyang “melangit” dan sulit mencari padanannya untuk diturunkan menjadi aksi  yang “membumi”. Dengan demikian, hambatan utamanya adalah  berupa kesulitan untuk mendapatkan konsesus tentang makna visi dan strategi itu sendiri. Jika consensus itu dapat tercapai, maka kesulitan berikutnya adalah bagaimana menjabarkan strategi tersebut ke dalam langkah nyata untuk seluruh elemen organisasi sampai level individu.

2. Starategi tidak terhubung dengan sasaran-sasaran (goals) departemen, tim, dan Individu. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh organisasi yang sedang berkembang adalah tidak dilakukannya perencanaan SDM yang selaras dengan tujuan, visi, dan kompetensi individu yang dimiliki oleh organisasi disetiap tingkatan. Penerimaan pegawai cenderung menggunakan pola yang situasional dan kasuistik. Bagi organisasi ini berbahaya, karena akan terganggu mekanisme organisasi yang sedang berjalan. Dan pada gilirannya nanti, akan mengganggu pencapaian tujuan porganisasi. Perilaku korup yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan dalam penerimaan pegawai dalam organisasi akan mengabaikan tujuan utama yang ingin dicapai oleh organisasi tersebut. Dan faktor ini, yang acapkali ditemui, pada kegagalan organisasi pemerintah dalam pengelolaan lembaga pelayanan publik.
3. Strategi tidak terhubung dengan alokasi sumber daya Organisasi. Dalam sistem manajemen tradisional dimana anggaran menjadi pusat dalam proses manajemen, individu dalam organisasi digerakan oleh anggaran (budgeting driven).  Alokasi sumber daya lebih mengacu pada keuntungan-keuntungan jangka pendek yaitu mengacu pada anggaran, dan terpisah dengan prioritas strategi jangka panjang. Sehingga mereka menggunakan analisis varians yang bersifat jamak dengan membenadingkan kinerja operasional dengan anggaran; bukan memnadingkan pencapaian dengan target-target strategis.
4. Umpan balik yang diperoleh bersifat taktis bukan strategis.  Ketika organisasi lebih terfokus pada anggaran, maka secara tidak langsung akan menciptakan suasana yang tidak kondusif. Dimana kinerja akan dipengaruhi oleh anggaran tanpa memperhatikan tahapan pencapaian strategis yang seharusnya dicapai. Sehingga ketika anggaran yang dimiliki habis, maka organisasi akan mengalami stuck dan menunggu anggaran baru cair. Dan pencapaian goal organisasi akan terhambat. Persoalan lain adalah tingkat kinerja yang ditunjukan oleh individu dalam organisasi akan berjalan sendiri-sendiri setiap departemen.

Keempat persoalan organisasi terbut secara jelas tergambar dalam histogram di bawah ini:



Gambar
Sebagian besar kegagalan eksekusi strategi disebabkan 
oleh sistem internal yang tidak mendukung strategi


                                                    [Sumber: Norton dan Kaplan (1992)]

Kaplan dan Norton(1992) memberikan formulasi pemecahan masalah dengan menggunakan empat komponen sistem manajemen strategi, yaitu:
1. Memformulasikan dan mentransformasikan visi dan strategi organisasi      
Ø  Strategi adalah titik tolak atau referensi bagi keseluruhan proses manajemen;
Ø  Shared vision adalah fondasi bagi pembelajaran strategis;
2. Mengkomunikasikan dan menghubungkan tujuan-tujuan dan tolok ukur strategi.
Ø  Seluruh sasaran organisasi harus selaras, dari manajemen tingkat atas sampai individu paling bawah;
Ø  Pendidikan dan komunikasi yang terbuka tentang strategi adalah basis bagi pemberdayaan pegawai;
Ø  Sistem kompensasi harus terhubung dengan strategi.
3. Merencanakan, menyusun target-target, dan menyelaras inisiatif-inisiatuf strategis.
Ø  stretch targets dibuat dan disetujui;
Ø  Inisiatif strategis secara jelas diidentifikasi;
Ø  Investasi ditentukan oleh strategi;
Ø  Anggaran tahunan dihubungkan ke perencanaan jangka panjang.

4. Mempertinggi umpan bailk dan pembelajaran strategis.
Ø  feedback system digunakan untuk menguji hipotesis dimana strategi sebagai acuan;
Ø  Dibentuk tim problem solving;
Ø  Pengembangan strategi dilakukan secara berkesinambungan.