Kamis, 17 Maret 2016

Bagian Ke Satu dari dua tulisan: Menepis Stigma Negatif dengan Pelayanan Prima Pada RSUD



I
Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terbukti berbagai cara dilakukan orang untuk mendapatkan taraf kesehatan yang prima. Bila seseorang menderita sakit biasanya mereka akan segera berusaha untuk mengatasi dan mengobati gangguannya atau penyakitnya hingga sembuh. Untuk mencapai kesembuhan yang diharapkan seseorang memerlukan bantuan dari pihak lain yaitu Rumah Sakit sebagai institusi yang berwenang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas. Seiring dengan semakin pedulinya masyarakat terhadap kesehatannya, semakin tinggi pula tuntutan masyarakat atas mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit khususnya dari segi asuhan keperawatannya.
            Salah satu sumber daya manusia di Rumah Sakit yang menentukan penilaian terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan adalah tenaga keperawatan. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat perawat adalah bagian dari tenaga paramedis yang memberikan perawatan kepada pasien secara langsung. Perawat memiliki tanggung jawab dan kewenangan untuk mengambil langkah-langkah keperawatan yang diperlukan guna kesembuhan pasien. Di sisi lain perawat yang bertugas di Rumah Sakit selama 24 jam diharuskan menggantikan peran dokter dalam merawat pasiennya, selama dokter itu tidak bertugas. Meskipun demikian, perawat hanya diberi wewenang yang sangat kecil untuk hal tersebut (Ikawati, 2001). Sebagai perawat ia tidak boleh secara langsung memberikan pengobatan, kecuali sebelumnya sudah mendapat instruksi yang tertulis pada rekam medik. Di Rumah Sakit, dokter tidak harus mengobati pasien epanjang hari, sedangkan perawat harus tetap ada untuk melakukan berbagai hal berkaitan dengan perawatan pasien. Begitu lamanya dan kuatnya perawat berhubungan dengan pasien, sehingga pelayanan keperawatan yang prima secara psikologis merupakan sesuatu yang harus dimiliki dan dikuasai oleh perawat. Pelayanan prima ini sangat penting dan dibutuhkan oleh pasien juga keluarga pasien karena dengan pelayanan keperawatan yang prima ini akan sangat membantu dan mempercepat kesembuhan pasien. Akan tetapi suatu kenyataan pada saat ini masih banyak keluhan masyarakat, keluarga pasien dan pasiennya sendiri terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh perawat. Sering didengar dan dibaca di media cetak berbagai keluhan tentang sikap, pelayanan dan tindakan perawat yang kurang simpatik, seperti sikap dan ekspresi yang galak dan judes baik terhadap pasien maupun keluarga pasien, kurangnya perhatian yang diberikan perawat terhadap pasien, kurang proaktif, apatis dan lamban serta kurang memadai dalam menjalankan tugas di Rumah Sakit. Dalam bahasa Indonesia, pelayanan
diartikan sebagai suatu cara atau perbuatan dalam melayani (Poerwadarminta, 1982). Sedangkan melayani adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain. Stanson dan Lamarto (1985) memberikan pengertian pelayanan sebagai suatu kegiatan tidak berwujud yang secara terpisah diidentifikasikan berfungsi untuk memuaskan keinginan serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau jasa lainnya. Pelayanan merupakan unsur lain dari strategi produk. Pelayanan didefinisikan sebagai aktivitas atau hasil yang dapat ditawarkan sebuah lembaga kepada yang lain yang biasanya tidak kasat mata dan hasilnya tidak dapat dimiliki (Kotler, 1994).
Rumah Sakit merupakan suatu organisasi kesehatan yang dengan segala fasilitas kesehatannya diharapkan dapat membantu pasien dalam meningkatkan kesehatan dan mencapai kesembuhan yang optimal baik fisik, psikis maupun sosial. Taylor (1995) mengatakan bahwa tujuan perawatan tidak hanya memulihkan kesehatan pasien secara fisik akan tetapi sedapat mungkin diupayakan untuk menjaga kondisi emosi dan jasmani pasien menjadi nyaman. Akan tetapi kenyataannya kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi medis maupun elektro medis, belum diiringi dengan kemajuan yang sama pada aspek-aspek kemanusiaan dari perawatan pasien (Prokop, 1991). Dengan kata lain ada suatu pengabaian terhadap aspek psikologis dalam proses asuhan keperawatan pasien di Rumah Sakit, sehingga sering menimbulkan berbagai masalah psikologis pada pasien seperti perasaan cemas, frustrasi dan sikap penolakan.
         Salah satu sumber daya Rumah Sakit yang sangat menentukan penilaian terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan adalah tenaga keperawatan. Perkembangan di bidang keperawatan saat ini menyebabkan perawat tidak lagi dipandang sekedar sebagai pembantu dokter, akan tetapi lebih sebagai suatu profesi. Profesi keperawatan harus memenuhi syarat profesionalisme yang meliputi konsep keilmuan, pelayanan kepada pasien, lembaga pengatur, kode etik, pengembangan pengetahuan dan otonomi (Gilling dalam Ellis dkk, 1995). Fokus keprofesian ini adalah hubungan antara perawat dengan pasien artinya perhatian dan tindakan keperawatan berubah dari pendekatan yang berorientasi penyakit medis ke model yang memusatkan perhatian kepada pasien sebagai individu dan kebutuhan pasien (Cobert dalam Ellis dkk, 1995). Hubungan antara pasien dan perawat lebih ditekankan pada hubungan yang bersifat humanistik dan hubungan ini menuntut perawat untuk terlibat lebih mendalam dengan pasien dan memandang pasien sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial dan spiritual, sehingga perawat dalam melayani pasien akan lebih sempurna. Cobert (Ellis dkk, 1995) menyatakan bahwa untuk menjalin hubungan emosional antara perawat dan pasien memerlukan kehangatan, ketulusan dan empati serta penerimaan secara positif tanpa syarat (unconditioning possitive regard). Untuk mewujudkan hal ini diperlukan kerangka pikir, keadaan emosi, keterampilan dan suasana yang kondusif khususnya dari pihak perawat. Hal ini merupakan sesuatu yang penting karena ketika perawat berhadapan dengan pasien dan keluarga pasien, akan menghadapi kecemasan, keluhan, tuntutan dan mekanisme pertahanan diri pasien yang muncul karena kondisi fisiknya yang lemah dan dalam kondisi sakit. Dalam situasi yang demikian perawat diharapkan dan dituntut untuk dapat mengatasi masalah dengan cara memahami alur pikiran dan perasaan pasien dengan segala manifestasi psikologis yang muncul akibat penyakit yang dideritanya. Penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh (2000) menunjukkan bahwa kemampuan empati yang tinggi akan menimbulkan tingginya intensi prososialnya pada diri perawat. Dengan kata lain jika perawat dapat merasakan apa yang dirasakan oleh pasien maka perawat akan cepat untuk melakukan perbuatan dan tindakan yang ditujukan pada pasien dan perbuatan atau tindakan tersebut memberi keuntungan atau manfaat positif bagi pasien. Pasien yang datang ke Rumah Sakit disamping memerlukan suatu pengobatan secara medis juga membutuhkan suatu dukungan moril dalam menghadapi dan mengatasi penyakitnya dan juga dampak psikologis sebagai akibat penyakit yang dideritanya. Bila seseorang sedang sakit biasanya akan diiringi dengan munculnya perasaan cemas, takut, khawatir dan kemungkinan stres sampai depresi. Sebagaimana yang dikemukakan Sarafino (dalam Smet, 1994) kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien di Rumah Sakit. Demikian pula Taylor (1995) menyatakan bahwa pasien di Rumah Sakit menunjukkan gejala-gejala psikologis terutama kecemasan dan depresi, sehingga tidak menutup kemungkinan kondisi psikologis ini justru akan memperparah keadaan pasien. Dalam hal ini, perawat sangat besar peranannya dalam memerangi kondisi psikologis yang tidak menguntungkan tersebut dan menciptakan suasana psikologis yang kondusif bagi usaha penyembuhan yang optimal yaitu dengan memberikan pelayanan prima tanpa menghilangkan profesionalisme keperawatan. Perawat adalah karyawan rumah sakit yang mempunyai dua tugas yaitu merawat pasien dan mengatur bangsal (Sarafino,1990). Lokakarya Keperawatan Nasional tahun 1983 (dalam Priharjo, 1995) mendefinisikan keperawatan sebagai suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsiko- sosio-spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh siklus kehidupan manusia. Pelayanan keperawatan disini adalah bagaimana perawat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan memperlakukan pasien sebagai manusia. Sugiarto (1999) mengungkapkan bahwa dimensi kualitas pelayanan terdiri dari:
1. Responsibility atau tanggung jawab, merupakan tanggung jawab yang mencakup kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pelayanan serta keakuratan dalam memberikan informasi.
2. Responsiveness atau kepekaan, yaitu kepekaan terhadap kebutuhan pasien yang diiringi dengan tindakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan tersebut.
3. Assurance atau kepastian pelayanan, yaitu bentuk layanan langsung dalam membantu pasien, yang didukung dengan pengetahuan dan keterampilan.
4. Empati, merupakan kemampuan untuk memahami dan memperhatikan kondisi psikologis pasien, yang dalam hal ini diperlukan upaya untuk memberikan kenyamanan kepada pasien.
Pelayanan yang baik sangat memperhatikan individu sebagai pribadi yang unik dan menarik (Sugiarto, 1999). Pasien lebih menyukai perawat yang menyenangkan, memiliki ketrampilan dan kemampuan serta mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang tidak hanya pada perawatan fisik tetapi juga pada kepribadian pasien.. Pelayanan prima dalam konteks pelayanan rumah sakit berarti pelayanan yang diberikan kepada pasien yang berdasarkan standar kualitas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pasien sehingga pasien dapat memperoleh kepuasan yang akhirnya dapat meningkatkan kepercayaannya kepada rumah sakit (Endarini,
2001).
          Beberapa modal dasar perawat dalam melaksanakan pelayanan prima (Tauchid,2001):
1. Profesional dalam bidang tugasnya.
Keprofesionalan perawat dalam memberikan pelayanan dilihat dari kemampuan perawat berinspirasi, menjalin kepercayaan dengan pasien, mempunyai pengetahuan yang memadai dan kapabilitas terhadap pekerjaan (Priharjo, 1995).
2. Mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi.
Keberhasilan perawat dalam membentuk hubungan dan situasi perawatan yang baik antara lain  ditentukan oleh kemampuannya berhubungan dengan orang lain, berkomunikasi dan bekerja sama (Gunarsa, 1995).
3. Memegang teguh etika profesi
Asuhan keperawatan yang professional sangat tergantung pada bagaimana perawat dalam melaksanakan tugas-tugasnya selaku tenaga profesional berusaha memegang teguh etika profesi.
4. Mempunyai emosi yang stabil
Seorang perawat diharapkan mempunyai emosi yang masak, stabil dalam menjalankan profesinya. Jika perawat dalam menjalankan tugasnya diiringi dengan ketenangan, tanpa adanya gejolak emosi, maka akan memberikan pengaruh yang besar pada diri pasien.
5. Percaya Diri
Kepercayaan diri menjadi modal bagi seorang perawat karena perawat dituntut untuk bersikap tegas, tidak boleh ragu-ragu dalam melaksanakan dan memenuhi kebutuhan pasien (Gunarsa, 1995).
6. Bersikap wajar
Sikap yang wajar dan tidak dibuat-buat akan memberikan makna yang besar bagi pasien bahwa perawat dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan ketentuan keperawatandan profesionalismenya.
7. Berpenampilan memadai
Perawat dengan penampilan yang bersih, seragam yang bersih, dengan penampilan yang segar dalam melakukan tugas-tugas perawatan diharapkan mampu mengubah suasana hati pasien (Gunarsa, 1995).
Sarafino (1990) mengungkapkan bahwa pasien sering kali mendapatkan pengalaman negatif baik berupa perilaku perawat yang tergesa-gesa, tidak sensitif, kurang tanggap atau tidak mampu menjelaskan masalah-masalah medis. Untuk mengatasi hal tersebut dan mampu memberikan pelayanan prima kepada pasien, maka perawat perlu mengembangkan beberapa keterampilan diantaranya:
1. Komunikasi Efektif
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat senantiasa melakukan komunikasi dengan pasien. Oleh karena itu perawat dituntut untuk mampu melakukan komunikasi secara efektif agar pasien dapat menerima informasi yang diberikan oleh perawat  dengan tepat. Selain dengan pasien, komunikasi juga dilakukan antar paramedis. Komunikasi yang baik antar paramedis tidak hanyamemperbaiki pelayanan yang diterima pasien tetapi juga menjaga pasien dari bahaya potensial akibat salah komunikasi (Sarafino, 1990).
2. Mendengarkan Aktif
Mendengarkan secara aktif mempunyai makna bahwa mendengar bukan untuk menjawab akan tetapi mendengar untuk mengerti dan memahami. Dengan demikian jika perawat dalam mendengarkan keluhan pasien tentang penyakitnya, maka perawat akan dapat mengerti bahwa apa yang dikeluhkan merupakan kondisi yang sebenarnya, sehingga respon yang diberikan perawat terasa tepat dan benar bagi pasien, karena ekspresi yang muncul baik verbal maupun non verbal dari perawat sesuai dengan keluhan dan kondisi pasien.
3. Empati
Empati merupakan kemampuan dan kesediaan untuk mengerti, memahami dan ikut merasakan apa yang dirasakan, apa yang dipikirkan dan apa yang diinginkan pasien. Di dalam empati perawat diharapkan akan mengerti dunia pasien, alam pikiran pasien atau internal frame of reference. Di dalam empati perawat harus masuk ke dalam alur pemikiran dan perasaan pasien tanpa terbawa oleh pasien. Pelayanan prima merupakan suatu keterampilan yang dapat dipelajari dan harus dipunyai oleh seorang perawat yang ideal, karena dalam pelayanan prima terkandung suatu aspek sosial yaitu suka melakukan tindakan sosial atau prosocial behavior tanpa harus ada penguat. Sampson (1976) menyatakan bahwa perilaku prososial merupakan suatu tindakan yang ada pada diri seseorang untuk menolong dan menyelamatkan suatu objek yang meliputi perbuatan member sumbangan, berbagi rasa, pengalaman dan pengetahuan, bekerja sama, memberi, peduli dan memberi fasilitas untuk kesejahteraan orang lain. Dengan kata lain perilaku prososial merupakan perilaku yang dapat dirasakan oleh orang lain yaitu memberi manfaat dan keuntungan. Perawat profesional yang memberikan pelayanan sesuai dengan jiwa seperti tersebut tentunya akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, yang pada akhirnya akan meningkatkan citra positif Rumah Sakit sebagai lembaga resmi yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Nuralita (  2000) menemukan bahwa semakin baik persepsi pasien rawat inap terhadap pelayanan keperawatan di Rumah Sakit maka semakin rendah kecemasan yang dialaminya.
Pelayanan prima yang diberikan perawat, seperti: mau mendengarkan keluhan pasien secara tuntas, penuh pengertian, penerimaan dan ketulusan serta empati akan sangat membantu proses kesembuhan pasien dan munculnya kesediaan pasien untuk bekerja sama dalam proses pengobatan, akibatnya perasaan cemas, takut dan depresi akan terkurangi dan akibat lebih lanjut berupa kesembuhan pasien menjadi lebih cepat tercapai. Pelayanan prima di Rumah Sakit melibatkan seluruh karyawan dari manajer puncak sampai ke pekarya. Para profesi yang meliputi berbagai bidang kedokteran atau kesehatan merupakan ujung tombak pelayanan di Rumah Sakit, yang tidak hanya dituntut profesional akan tetapi juga diharapkan peran serta aktifnya dalam manajemen Rumah Sakit termasuk manajemen mutu (Sunartini, 2000). Pelayanan prima di Rumah Sakit merupakan pelayanan yang bermutu tinggi yang diberikan pada pasien, berdasar standar kualitas tertentu untuk memenuhi bahkan melebihi kebutuhan dan harapan pasien, sehingga tercapai kepuasan pasien dan akan menyebabkan peningkatan kepercayaan pasien kepada Rumah Sakit. Pasien merupakan suatu aset yang terpenting di dalam pendapatan Rumah Sakit disamping obat-obatan atau jasa yang lain. Sebagai suatu organisasi, Rumah Sakit mempunyai pelanggan atau pasien yang merupakan salah satu nafas dalam organisasi. Dengan demikian perencanaan harus dibuat sedemikian rupa dalam rangka untuk mendapatkan dan memelihara pelanggan atau pasien. Bahkan dalam suatu organisasi, setiap pelaku organisasi harus tahu dan mengenal siapa pelanggannya, apa yang dibutuhkan dan apakah pelayanan yang telah diberikan kepada pelanggan, memberikan kepuasaan dan manfaat yang besar. Citra organisasi di mata pelanggan akan sangat tergantung pada pelayanan yang telah diberikan. Pelayanan yang baik merupakan kunci keberhasilan dalam berbagai usaha atau kegiatan yang bersifat jasa (Muslimah, 2001). Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat atas haknya untuk mendapatkan pelayanan publik, maka Rumah Sakit dalam satu sisi sebagai organisasi pelayanan publik harus memberikan pelayanan yang bermutu, cepat dan profesional. Dengan demikian Rumah Sakit harus sudah berorientasi bahwa pasien adalah titik sentral. Rumah Sakit sebagai organisasi apabila konsisten dalam melaksanakan pelayanan prima akan menjadi pemenang dalam persaingan (Muslimah, 2001). Rumah Sakit akan mendapatkan loyalitas pelanggan atau pasien yang terus menerus secara berkesinambungan, bila pelayanan yang diberikan dirasakan prima. Rumah Sakit tidak perlu menghabiskan uang untuk melakukan promosi atau pemasaran, karena pelanggan atau pasien akan menyebarluaskan hal-hal yang baik mengenai pelayanannya. Menurut penelitian jika Rumah Sakit memuaskan satu pelanggan maka pelanggan tersebut akan bercerita kepada empat orang. Akan tetapi jika Rumah Sakit mengecewakan atau mengabaikan pelanggan atau pasien, maka pasien tersebut akan bercerita kepada sepuluh orang.(Muslimah, 2001).............(Tulisan berikutnya yang sedang diselesaikan adalah: Kesejahteraan Pegawai Rumah Sakit kaitannya dengan Pelayanan Prima...)

Jumat, 11 Maret 2016

Bahan Kuliah MSDM: Merencanakan dan Mengeksekusi Strategi Dalam Organisasi (Telaah Balanced Scorecard Pada Rumah Sakit Daerah)



I
Mengelola stratagi akan sangat berbeda dengan mengelola organisasi. Meskipun keduanya sangat penting dan perlu diintegrasikan. Sebagaimana dinyatakan oleh Michael Porter bahwa “Efektivitas operasi dan strategi sangat penting dalam rangka meraih kinerja yang lebih unggul...”. Strategi dan Mengelola Organisasi merupakan dua sisi mata uang dan satu sama lain saling melengkapi dari sisi yang berbeda.
Strategi visioner yang tidak mengkaitkan dengan keunggulan proses dan tata kelola (governance) tidak akan dapat diterapkan. Sebaliknya keunggulan operasi, mungkin, dapat menurunkan biaya, memperbaiki mutu, dan mengurangi jumlah proses dan waktu tunggu. Akan tetapi tanpa visi dan panduan strategi, organisasi tidak mungkin menikmati kesuksesan yang berkesanbungan, hanya dengan memperbaiki operasi saja.

Seorang perencana strategi senior menyatakan bahwa:”Anda bisa memiliki berbagai proses yang terbaik di dalam organisasi yang anda pimpin, akan tetapi jika proses tersebut tidak memberikan arah dan koreksi atas tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi Anda, maka kesuksesan hanyalah soal keberuntungan”.  
 
 

Di dalam organisasi Rumah Sakit Daerah lajimnya memiliki dua kekuatan yang sama dan memiliki tugas dan fungsi yang sentral; keuangan; dan Perencanaan. Pada prakteknya Keduanya tidak selaras dalam menjalankan roda organisasi, keuangan bertitik tekan pada proses, sementara perencanaan lebih kepada konsep goal yang harus dicapai organisasi. Keuangan, berorientasi kepada pendapatan dan posting yang bersifat kasuistik dan jangka pendek, semetara perencanaan berorientasi kepada gagasan ideal organisasi dan bersifat umum dan jangka panjang.

 




Kedua lini organisasi tersebut, tidak pernah bertemu pada satu titik yang sama. Karena keduanya samasama ego dan tidak mau menundukan dirinya satu sama lain.

II
            Terdapat enam tahapan yang harus dilakukan oleh organisasi dalam membuat suatu tahapan strategi:
1)Terjemahkan strategi;
2)Kelola inisiatif‒inisiatif strategis;
3)Selaraskan unit‒unit organisasi dengan strategis;
4)Komunikasikan Strategi.
5)Kaji ulang Strategi
6) Perbaharui strategi
Sebagai ilustrasi: 73% organisasi dengan kinerja yang luar biasa mengkomunikasikan strtaegi dan ukuran‒ukuran strategis mereka secara jelas, sementara hanya 28% dari organisasi yang berinerja rendah yang mengkomunikasi strategis dan ukuran‒ukurannya.
Sebuah survey yang dilakukan oleh Cranfield University pada tahun 2003 mendapati bahwa 46% Organisasi menggunakan proses manajemen kinerja formal. Dari organisasi‒organisasi tersebut, 25% diantaranya menggunakan bentuk Total Quality Manajement (TQM) sebagai sistem manajemen kinerja utama mereka. 75% menggunakan Balanced Scoredcard (BSC), dan hasilnya mereka dapat mendahului kemajuan organisasi melebihi penggunaan sistem berbasis manajemen mutu.

Proses
Persentase Organisasi yang memiliki Proses Foemal
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
Terjemahkan penyampaian strategi dan ukuran‒ukuran korporat secara jelas
Pecundang
Pemenang









 Inisiatif kelola inisiatif strategis kunci










Selaraskan: Penyelarasan unit‒unit pendukung dengan strategis










Komunikasikan: Komunikasikan tentang strategi










Tinjauan: Rapat rutin untuk melaporkan dan mengelola strtaegi










Perbaharui: Pembaharuan strategi secara rutin untuk mempertimbangkan kondisi yang berubah










SDM: Pengembangan organisasi










Keuangan: Kaitkan inisiatif strategis dengan anggaran










TI: kesepakatan mengenai tingkat layanan










(Robert Kaplan & David Norton, Execution Premium; Linking strategy to operations for competitive, ©2008)

Kaplan menyusun panduan langkah pengintegrasian manajemen operasi dengan perencanaan strategi, yaitu:
Tahap 1: Para manajer menyusun strategis dengan menggunakan perangkat strategis yang telah disusun sebelumnya.
Tahap 2 : Organisasi merencanakan strategi dengan menggunakan perangkat Balanced Scorecard.
Tahap 3: Begitu strategi tingkat tinggi dan Balance scorecard disampaikan, para manajer menyelaraskan organisasi dengan strateg, dengan cara mengalirkan peta‒peta strategis yang saling terkait dan Balance Scorecard ke seluruh unit organisasi. Penyelarasan dilakukan pada karyawan dengan komunikasi formal dan mengaitkan sasaran dan motivasi pribadi karyawan dengan sasaran strategis.
Tahap 4: Dengan seluruh unit  organisasi dan karywan telah selaras dengan strtaegi, kini para manajer dapat merencanakan operasi dengan menggunakan perangkat manajemen mutu dan proses, rekayasa ulang, dashboard proses, role forchasting, pembiayaan berbasis kegiatan, perencanaan kapasitas sumber daya manusia, dan penganggaran dinamis.
Tahap 5: Pada saat strategi dan rencana operasi dijalankan, organisasi memantau dan mempelajari masalah, kendala, dan tantangan yang ada. Proses ini mengintegrasikan informasi menganai operasi dan strategis dalam sebuah struktur rapat ditinjau dari manajemen yang dirancang secara cermat.
Tahap 6: Para manajer menggunakan data operasi internal serta data persaingan dan lingkungan eksternal untuk menguji dan menyesuaikan strategi, yang meluncurkan lingkaran lain pada sistem perencanaan dan pelaksanaan operasi yang terintegrasi.
Semoga bermanfaat.


#Ruang jenazah, Gerhana Matahari Total 2016#