Sabtu, 04 Oktober 2014

Pemimpin Harus Cerdas Dalam Emosi







Memimpin suatu organisasi yang besar selain harus memiliki ilmu manajemen, juga, wajib memiliki kecerdasan emosi yang baik. Menurut Goleman (2000) pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, malah di atas rata-rata, akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap laju perkembangan organisasi yang dipimpinnya, bahkan Sohal (2013) dalam makalahnya menganggap bahwa kecerdasan emosi ini adalah rantai (chains) keberhasilan dalam menjembatani antara organisasi dan mitranya. Pertanyaannya bagaimana kecerdasan emosi seorang pemimpin? beberapa kriteria pernah diajukan Devrey (2000) yaitu:
-Tidak mudah panik
Pemimpin yang mudah panik di depan anak buahnya, akan memiliki 2 kemungkinan:(1) Dicemooh;(2) dimanfaatkan dan dijatuhkan. Keduanya, bagi pemimpin, sama-sama tidak memberikan keuntungan. Kepanikan yang ditunjukan oleh seorang pemimpin, mengidikasikan ketidaksiapannya dalam memimpin, bahkan tidak bisa memimpin.Sesulit apapun persoalan yang dihadapi oleh organisasi, pemimpin harus tetap tenang, bahkan berusaha mengendalikan anak buahnya untuk tetap tenang. Tidak perlu menggunakan strategi Bollywood untuk menarik simpati anak buahnya, karena selain sia-sia juga tidak penting.
-Terukur dalam menentukan hal apapun
Terukur yang dimaksud adalah segala keputusan yang berkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan organisasi dan anak buahnya. Terukur disini adalah How,Time,Place,. Seluruh keputusannya terukur dan terkendali, sehingga terhindar dari salah persepsi antara anak buah dan pimpinan. Harus bisa membedakan mana Wacana dan mana Rencana . Karena boleh jadi suatu wacana akan dianggap rencana manakala diutarakan pada saat dan tempat yang salah. 
- Tidak terlalu banyak bicara
 Pemimpin yang tidak mampu memimpin, acapkali  terlalu banyak menjelaskan. bahkan hanya fokus pada detail yang harus dilaksanakan oleh bawahannya, padahal itu tidak penting. Semakin banyak bicara akan semakin jelas dan tampak kalau pimpinan tidak mengerti apa-apa. Dan akan menjadi bahan tertawaan bawahannya.

 Pada prinsipnya, menjadi pemimpin organisasi harus bisa memimpin dan mengendalikan diri sendiri, sebagaimana pepatah "Air Beriak Tanda Tak Dalam"

"Kamar Jenazah, 4 Oktober 2014"